Pemkab Purbalingga Membahagiakan Warganya Lewat Persibangga, Banyumas Apa Kabar?

Pemkab Purbalingga Membahagiakan Warganya Lewat Persibangga, Banyumas Apa Kabar?


144 kali dibaca

23 Aug 2025
OLAH RAGA

Purbalingga seakan tahu betul cara membahagiakan warganya: lewat sepak bola. Gebrakan demi gebrakan Persibangga bikin masyarakat antusias dan semakin dekat dengan tim kebanggaan mereka. Perbincangan tentang tim menggema di warung kopi dan media sosial, hingga semangat kolektif masyarakat terasa bangkit. Sementara itu, di Banyumas, nasib Persibas justru sulit dianggap maju. Padahal, kedua daerah bertetangga ini punya latar sosial yang mirip, bahkan sama-sama berlaga di level kompetisi yang serupa. Pertanyaannya, mengapa perbedaan keduanya begitu mencolok?

 

Persibangga Jadi Kebanggaan Baru

Bupati Purbalingga, Fahmi, dan Wakil Bupati, Dimas, sepertinya memahami betul bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bahasa rakyat. Dengan pendekatan itu, mereka serius “ngopeni” Persibangga. Setelah mendatangkan Coach Francesc Puigdomenech, eks educator Barcelona, untuk menggelar coaching clinic, kini diumumkan pula sosok Coach Imran Amirullah, legenda sepak bola Indonesia, sebagai pelatih baru. Kehadiran figur-figur berkelas ini tidak hanya meningkatkan kualitas teknis tim, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat bahwa Persibangga ditangani dengan visi besar.

 

Komitmen Nyata dari Pemkab Purbalingga

Langkah yang dilakukan Pemkab Purbalingga bukan sekadar formalitas. Mereka menunjukkan bahwa klub sepak bola bisa menjadi bagian dari strategi pembangunan sosial. Persibangga yang hanya bermain di kasta keempat Liga Indonesia diperlakukan dengan penuh perhatian dan diberi sentuhan iconic, sehingga atmosfer kompetisi terasa jauh lebih semarak. Tak heran, masyarakat merespons dengan dukungan yang luar biasa. Antusiasme itu tercermin dari ramainya perbincangan di media sosial,. Semua itu menunjukkan bahwa sepak bola mampu menjadi alat perekat sosial, sarana hiburan rakyat, sekaligus wadah membangun identitas daerah.

 

Bupati Fahmi dan jajaran Pemkab tampaknya memahami logika sederhana namun penting, membangun tim sepak bola berarti membangun kebanggaan kolektif. Hal ini bisa berdampak panjang, mulai dari meningkatnya citra daerah, lahirnya ekosistem ekonomi kreatif di sekitar stadion, hingga munculnya motivasi generasi muda untuk mengembangkan bakatnya di dunia olahraga. Singkatnya, apa yang dilakukan Purbalingga bukan sekadar investasi pada klub, tetapi juga investasi pada masyarakat.

 

Lalu Bagaimana Banyumas?

Berbeda dengan Purbalingga, nasib Persibas Banyumas justru memunculkan kesan stagnan. Padahal, klub ini punya sejarah panjang dan basis suporter yang tak kalah fanatik. Namun hingga saat ini, geliat yang terlihat masih lebih kental dengan nuansa birokratis dan politis. Dukungan teknis yang mampu membangkitkan semangat masyarakat belum benar-benar terlihat. Persibas seperti belum menemukan arah, antara mau dikelola secara profesional atau tetap terjebak dalam kerangka lama yang penuh pertimbangan politik.

 

Padahal, potensi Banyumas sangat besar. Dengan jumlah penduduk yang banyak, infrastruktur yang relatif memadai, serta kedekatan dengan Purwokerto sebagai kota pelajar, Persibas sebenarnya bisa dikembangkan menjadi ikon baru kebanggaan daerah. Hanya saja, tanpa komitmen nyata dari pemerintah daerah, Persibas akan sulit bersaing, apalagi menyalip gebrakan yang tengah dilakukan Purbalingga.

 

Lebih jauh, stagnasi ini bisa berdampak pada semangat masyarakat. Sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, melainkan juga tentang rasa memiliki. Jika masyarakat merasa klub daerahnya tidak diperlakukan serius, lama-kelamaan kebanggaan itu bisa hilang. Akibatnya, Banyumas akan kehilangan momentum untuk menjadikan sepak bola sebagai medium memperkuat identitas daerah.

 

Gebrakan Purbalingga membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi instrumen membangun kebanggaan daerah. Persibangga menjadi contoh nyata bagaimana perhatian pemerintah bisa langsung berdampak pada euforia masyarakat. Dengan strategi yang jelas dan komitmen yang serius, sebuah klub yang bermain di kasta bawah sekalipun mampu menjadi pusat kebanggaan warga.

 

Sementara itu, Banyumas masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Persibas butuh sentuhan baru agar bisa kembali disayangi masyarakat. Pertanyaannya, kapan Banyumas berani mengambil langkah serupa, mengelola Persibas dengan visi besar, dan menjadikannya bagian dari pembangunan sosial? Atau justru Persibas akan terus terjebak dalam lingkaran lama yang membuat potensinya tidak pernah benar-benar muncul?