Persibas Banyumas kini tengah bersiap untuk mengarungi Liga 4. Suporter mulai menunjukkan antusiasme, manajemen bergerak menyiapkan tim, dan publik Banyumas kembali menaruh harapan. Namun, satu pertanyaan besar menggantung di udara, apakah ini benar-benar awal kebangkitan, atau hanya pengulangan dari episode lama yang penuh janji tapi minim prestasi?
Kebangkitan Persibas bukan hanya soal olahraga. Ia adalah cermin dari dinamika sosial, budaya, bahkan politik Banyumas. Itulah sebabnya, perjalanan klub ini jauh lebih kompleks daripada sekadar skor akhir di papan pertandingan.
Dari Seleksi Hingga Harapan Baru
Langkah awal sudah terlihat. Manajer baru ditunjuk, pelatih dan asisten pelatih dikukuhkan, serta seleksi terbuka dilakukan. Walaupun ada keraguan dari sebagian masyarakat, nyatanya mereka perlu diberi kesempatan untuk menunjukan diri.
Fakta bahwa publik masih peduli adalah sinyal positif. Di tengah berbagai keterpurukan, Persibas ternyata masih punya daya magnet. Klub ini tetap mampu mengundang energi optimisme, meski tipis. Dan di dunia sepak bola, modal psikologis seperti itu sangatlah berharga. Banyumas jelas merindukan klub kebanggaan yang bisa dibicarakan dengan bangga di warung kopi, bukan sekadar jadi bahan keluhan atau nostalgia masa lalu.
Sepak Bola, Panggung Politik yang Nyata
Tak bisa dipungkiri, sepak bola adalah panggung politik yang nyata. Ribuan suporter yang hadir di stadion bukan hanya penonton, mereka adalah suara, atensi, dan energi sosial. Itulah sebabnya, banyak politisi di berbagai daerah menjadikan klub sepak bola sebagai kendaraan politik.
Di Banyumas, Persibas pun rasanya pernah mengalami fase di mana dinamika politik lokal menyeretnya ke jurang keterpurukan. Klub ditarik kesana kemari demi kepentingan sesaat, sementara prestasi di lapangan terabaikan. Infrastruktur terbengkalai, pemain kehilangan motivasi, dan suporter hanya bisa menonton klub kesayangannya layu perlahan.
Inilah salah satu alasan mengapa kebangkitan Persibas tidak bisa dilepaskan dari konteks politik. Selama klub hanya dijadikan alat pencitraan, sulit rasanya berharap prestasi lahir dari proses yang sehat.
Momentum yang Jangan Disia-siakan
Meski begitu, saat ini ada momentum baru. Energi publik sedang terkumpul. Pertanyaannya, apakah energi ini akan digunakan untuk membangun fondasi yang kuat, atau hanya dijadikan panggung sesaat?
Bahaya laten yang harus diwaspadai adalah antusiasme suporter yang kembali ditunggangi. Jika dukungan politik hanya sebatas pencitraan, misalnya lewat baliho, sponsor formalitas, atau sekadar “numpang nama”, maka Persibas berisiko jatuh ke lubang yang sama.
Yang dibutuhkan sekarang adalah kedewasaan politik. Para pemimpin harus menyadari bahwa mendukung Persibas bukan hanya soal muncul di tribun VIP saat pertandingan penting, tapi benar-benar terlibat dalam pembangunan ekosistem klub. Mulai dari pemain, pelatih, infrastruktur, hingga pembinaan suporter. Dukungan politik yang sehat bisa menjadi bensin yang mempercepat laju, bukan rem tangan yang menahan gerak.
Dukungan Politik Bukan Cuma Soal Uang
Memang benar, dana adalah kebutuhan mendesak. Tapi uang saja tidak cukup. Persibas juga memerlukan dukungan moral, kelancaran administrasi, izin penggunaan fasilitas, bahkan akses untuk menggelar pertandingan dengan nyaman.
Di banyak daerah lain, klub lokal bisa bertahan dan berkembang karena adanya sinergi kuat antara pemerintah, swasta, dan komunitas. Jika Pemkab Banyumas benar-benar serius, Persibas bisa menjadi etalase kebanggaan daerah. Klub ini bisa tampil bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai simbol identitas, alat pemersatu masyarakat, bahkan “mesin kebahagiaan” bagi ribuan warga Banyumas.
Jangan lupa, sepak bola punya efek domino. Ketika klub tumbuh sehat, dampaknya bisa ke mana-mana: UMKM sekitar stadion hidup, pariwisata olahraga meningkat, hingga generasi muda punya inspirasi untuk berprestasi. Dukungan kepada Persibas sejatinya adalah investasi sosial jangka panjang.
Persibas kini berada di persimpangan jalan. Apakah akan bangkit menjadi kebanggaan, atau kembali terjebak sebagai korban tarik-menarik politik? Semuanya bergantung pada sejauh mana para pemimpin daerah dan pemangku kepentingan mau bersikap dewasa.
Jika sepak bola diposisikan sebagai alat politik yang sehat, maka ia bisa membawa kebahagiaan dan kebanggaan bagi rakyat Banyumas. Tapi jika masih diperlakukan sebagai panggung pencitraan, Persibas hanya akan jadi cerita lama yang terus diulang.
Banyumas butuh Persibas yang hidup, kuat, dan berprestasi. Karena di lapangan hijau itulah denyut kebanggaan rakyat bisa terdengar paling kencang. Persibas bukan hanya klub sepak bola, tapi juga simbol harapan dan identitas Banyumas.
