Banyumas dikenal sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim yang sangat dominan. Dari data jumlah penduduk menurut agama tahun 2024, terlihat bahwa lebih dari 98% warga Banyumas memeluk agama Islam. Namun, jika ditelusuri lebih detail, ada beberapa kecamatan yang jumlah pemeluk agama non-Muslimnya sangat kecil, bahkan hanya bisa dihitung dengan jari. Fenomena ini menarik, karena selain menunjukkan homogenitas keagamaan, juga memperlihatkan betapa minoritas di wilayah tertentu bisa sangat kecil jumlahnya.
Lantas, kecamatan mana saja yang masuk dalam daftar ini?
Lumbir: Hanya Enam Orang Non-Muslim
Kecamatan Lumbir tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk non-Muslim paling sedikit di Banyumas. Dari puluhan ribu jiwa, hanya 6 orang tercatat menganut agama non-Muslim. Rinciannya: 4 Katolik, 1 Kristen, dan 1 Buddha. Angka ini menjadikan Lumbir sebagai kecamatan dengan dominasi Muslim paling kuat di seluruh Banyumas.
Fenomena ini bisa dipahami karena Lumbir berada di bagian barat Banyumas, berbatasan dengan Cilacap. Daerah ini cenderung lebih homogen, baik dari sisi etnis maupun agama. Kehadiran 6 orang non-Muslim di tengah populasi mayoritas Muslim yang begitu dominan sekaligus mengingatkan bahwa keragaman tetap hadir, meski dalam jumlah sangat kecil.
Gumelar: Total 12 Orang Non-Muslim
Di posisi kedua ada Kecamatan Gumelar. Jumlah non-Muslim di sini hanya 12 orang, dengan rincian: 4 Katolik, 7 Kristen, dan 1 Buddha. Meski lebih banyak dibanding Lumbir, jumlah ini tetap sangat kecil jika dibandingkan dengan total populasi kecamatan yang mencapai puluhan ribu jiwa.
Gumelar juga termasuk wilayah perbatasan di bagian barat, dengan karakter sosial yang relatif homogen. Minimnya jumlah non-Muslim di kecamatan ini memperkuat kesan bahwa wilayah pedesaan dan pegunungan di Banyumas cenderung lebih tertutup terhadap migrasi penduduk non-Muslim, berbeda dengan wilayah perkotaan seperti Purwokerto yang lebih heterogen.
Pekuncen: 27 Orang Non-Muslim
Kecamatan Pekuncen menempati posisi ketiga, dengan 27 orang non-Muslim. Rinciannya terdiri dari 18 Katolik, 6 Kristen, dan 3 Buddha. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan Lumbir dan Gumelar, tetapi tetap sangat kecil jika dibandingkan dengan total penduduk kecamatan.
Pekuncen sendiri dikenal sebagai daerah yang cukup luas, dengan banyak desa yang masih kental nuansa pedesaannya. Jumlah non-Muslim yang sedikit ini memperlihatkan bahwa kehadiran agama minoritas di wilayah tersebut tetap ada, meskipun jauh dari kata signifikan.
Refleksi: Minoritas dalam Dominasi
Dari data tahun 2024, terlihat bahwa Kecamatan Lumbir, Gumelar, dan Pekuncen menjadi wilayah dengan jumlah penduduk non-Muslim paling sedikit di Banyumas. Meski secara statistik jumlahnya kecil, keberadaan mereka tetap bagian dari mozaik keragaman yang memperkaya Banyumas.
Fakta ini juga mengingatkan bahwa kerukunan bukan hanya soal angka mayoritas-minoritas, melainkan tentang bagaimana setiap orang, apapun agamanya, bisa hidup berdampingan dalam suasana saling menghormati. Bagi Banyumas, yang sejak lama dikenal dengan falsafah “cablaka” atau keterbukaan, data ini seharusnya menjadi bahan refleksi bahwa keberagaman tetap ada, meski tidak selalu terlihat jelas.
Tiga kecamatan dengan jumlah non-Muslim paling sedikit di Banyumas adalah Lumbir (6 orang), Gumelar (12 orang), dan Pekuncen (27 orang). Jumlah yang sangat kecil ini menunjukkan betapa dominannya umat Islam di wilayah Banyumas. Namun, kehadiran kelompok kecil non-Muslim tersebut tetap penting, karena keragaman sekecil apapun tetap merupakan bagian dari identitas Banyumas.
Dengan menjaga toleransi dan saling menghargai, Banyumas bisa terus menjadi rumah yang nyaman bagi semua, baik mayoritas maupun minoritas.
