Susun ICP, Bupati Sadewo: "Andalannya Banyumas kan Pariwisata dan Pendidikan..."

Susun ICP, Bupati Sadewo: "Andalannya Banyumas kan Pariwisata dan Pendidikan..."


197 kali dibaca

28 Aug 2025
POLITIK

Dikutip dari laman radarbanyumas.disway.id, Kabupaten Banyumas kini tengah merancang masa depan kotanya lewat sebuah program besar, Integrated City Planning (ICP) atau Perencanaan Kota Terpadu. Program ini bukan sekadar rencana tata ruang biasa, melainkan pendekatan jangka panjang yang menyatukan berbagai aspek pembangunan, seperti infrastruktur, ekonomi, sosial, hingga budaya.

 

Yang menarik, Banyumas menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang mendapat dua titik pengembangan ICP sekaligus, Purwokerto dan Kota Lama Banyumas. Hal ini tentu menjadi kebanggaan, sekaligus tantangan besar bagi Pemkab. Dengan fokus pada dua sektor andalan, pariwisata dan pendidikan, mampukah ICP benar-benar menjadikan Banyumas lebih terarah dan berdaya saing di masa depan?

 

Apa itu ICP dan Mengapa Banyumas Istimewa?

ICP adalah skema perencanaan kota jangka panjang yang menempatkan keterpaduan sebagai kunci. Artinya, pembangunan tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling terhubung dan mendukung. Misalnya, pembangunan jalan harus nyambung dengan perencanaan transportasi publik, pengembangan kawasan wisata harus sinkron dengan infrastruktur pendidikan dan layanan umum.

 

Di sinilah keistimewaan Banyumas. Dua lokasi yang dipilih, Purwokerto dan Kota Lama Banyumas, punya karakter berbeda tapi saling melengkapi. Purwokerto dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus pusat bisnis dan layanan. Sedangkan Kota Lama Banyumas memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang bisa jadi modal besar pariwisata. Dengan kombinasi ini, ICP di Banyumas bisa jadi laboratorium penting untuk melihat bagaimana pembangunan terintegrasi benar-benar bekerja.

 

Dukungan dari Pemerintah Pusat

Keseriusan ini juga ditunjukkan oleh pemerintah pusat. Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur Wilayah II, Airlangga M, yang dikutip dalam laman yang sama menegaskan bahwa kunjungannya ke Banyumas adalah bagian dari penjaringan masukan. Semua masukan ini nantinya akan diramu untuk melengkapi desain ICP. Harapannya, Kabupaten Banyumas bisa tumbuh seperti visi yang disampaikan oleh Bupati Sadewo.

 

Dengan dukungan pusat, Banyumas memiliki peluang besar untuk mengakselerasi pembangunan tanpa harus berjalan sendirian. Namun, dukungan itu tentu harus diimbangi dengan kesiapan daerah, mulai dari regulasi, konsistensi kebijakan, hingga komitmen menjaga keberlanjutan program.

 

Visi Bupati: Pariwisata & Pendidikan

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, sudah menegaskan arah pengembangan ICP harus jelas, yaitu mendukung sektor andalan daerah, pariwisata dan pendidikan. “Andalannya Banyumas kan pariwisata dan pendidikan,” ujarnya dikutip dari laman radarbanyumas.disway.id.

 

Sadewo memberi contoh, kawasan Unsoed dan Jalan Bung Karno akan dikembangkan sebagai pusat pendidikan dan wisata terintegrasi. Di satu sisi, Unsoed dan perguruan tinggi lain di Purwokerto bisa menjadi motor ekonomi berbasis pengetahuan. Di sisi lain, pengembangan jalur Bung Karno bisa menjadikannya destinasi wisata edukatif yang unik, menggabungkan sejarah, budaya, dan modernitas.

 

Visi ini menarik, karena ICP tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi juga berusaha memperkuat identitas Banyumas sebagai kota pendidikan sekaligus destinasi wisata. Identitas inilah yang nantinya bisa menjadi branding daerah, baik di level regional maupun nasional.

 

ICP membuka peluang besar bagi Banyumas untuk naik kelas. Dengan dua titik pengembangan sekaligus, Purwokerto dan Kota Lama Banyumas, Pemkab sebenarnya punya modal kuat untuk menjadikan kabupaten ini lebih terarah, lebih terintegrasi, dan lebih berdaya saing.

 

Namun, seperti proyek besar lainnya, tantangan terbesarnya ada pada konsistensi. Apakah ICP ini benar-benar diwujudkan dengan langkah nyata, atau hanya berhenti sebatas rencana di atas kertas? Pertanyaannya kini mampukah Banyumas menjadikan ICP sebagai motor penggerak pembangunan yang tidak hanya membangun ruang, tapi juga membangun kebanggaan warganya?