Tunjangan rumah DPR RI sebesar Rp50 juta per bulan bikin heboh jagat maya. Mayoritas komentar publik tentu bernada sinis, apalagi ketika rakyat masih banyak yang pontang-panting bayar kontrakan atau mencicil KPR. Tapi, mari kita coba berpikir lebih optimis. Siapa tahu, di balik angka fantastis ini, ada secercah manfaat yang tak kita sadari. Minimal, ada pihak-pihak yang bisa ikut merasakan “berkah” dari kebijakan ini.
Dampak Positif 1: Hotel Senayan Selamat
Bayangkan nasib hotel-hotel mewah di sekitar Senayan. Di tengah persaingan ketat industri perhotelan, mereka kadang pusing mikirin okupansi kamar. Nah, dengan adanya tunjangan Rp50 juta, anggota dewan bisa dengan tenang “staycation” tiap hari kerja.
Kalau biaya menginap rata-rata Rp2 juta per malam, maka dalam sebulan habis Rp60 juta. Pas banget dengan jatah tunjangan. Ditambah fasilitas gym, sarapan prasmanan, kolam renang, sampai laundry gratis, anggota DPR tidak hanya mendapatkan kenyamanan, tapi juga membantu industri perhotelan tetap hidup.
Jadi, bisa dibilang tunjangan ini bukan cuma untuk anggota DPR, melainkan bentuk subsidi silang elegan bagi sektor hospitality. Hotel selamat, pekerja hotel tetap digaji, dan ekonomi berputar. Win-win solution, bukan?
Dampak Positif 2: Kos Murah, Tabungan Melimpah
Beda cerita kalau ada anggota dewan yang lebih sederhana. Misalnya, memilih ngekos Rp7 juta per bulan di kawasan Senayan. Sisanya, Rp43 juta, bisa langsung ditabung. Dalam setahun, tabungan “uang rumah” saja bisa lebih dari Rp500 juta.
Inilah bukti nyata pepatah lama, hemat pangkal kaya. Bedanya, hemat di sini bukan dengan cara menahan belanja atau mengurangi jajan, melainkan memaksimalkan anggaran yang bersumber dari APBN. Jadi, sambil jadi wakil rakyat, mereka juga bisa jadi role model investor sukses, tentu dengan modal kesabaran rakyat.
Dampak Positif 3: Rakyat Jadi Sabar & Tegar
Nah, dampak yang paling besar justru dirasakan oleh masyarakat. Rakyat belajar menerima kenyataan bahwa pajak yang dibayarkan ternyata sangat bermanfaat: setidaknya bikin wakilnya tidur nyenyak.
Jika anggota DPR tidur dengan nyaman, konon kerja mereka bisa lebih maksimal. Kalau rakyat masih susah tidur karena mikirin cicilan dan biaya hidup? Yah, anggap saja itu bagian dari latihan mental. Toh, banyak motivator bilang, penderitaan adalah guru terbaik. Maka, rakyat Indonesia, dengan penuh kesabaran, bisa jadi manusia paling tangguh di dunia.
Jadi, jangan buru-buru menilai tunjangan rumah Rp50 juta per bulan sebagai pemborosan. Bisa jadi, itu adalah strategi pembangunan nasional model baru. Hotel-hotel di Senayan selamat, anggota DPR makin kaya, rakyat semakin sabar.
Lengkap sudah rumusnya, win-win-lose solution.
